Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Prof Dr drg Ida Ayu Brahmasari Dipl.DHE, MPA menyatakan, politikus perempuan lebih patuh aturan partai.
Profesor Brahmasari yang juga Rektor Untag Surabaya itu mengemukakan hal itu dalam konferensi pers di kampus setempat, Jumat (29/1/2010), menjelang pengukuhan dirinya sebagai guru besar di bidang perilaku organisasi pada 30 Januari 2010.
"Itulah inti dari pidato pengukuhan yang saya peroleh dari wawancara dengan 80 politikus perempuan, yang 18 di antaranya legislator DPRD Jatim dan 15 legislator DPRD Surabaya, sedangkan sisanya merupakan pengurus atau anggota parpol," paparnya.
Alumni S1 dari FKG Universitas Airlangga (Unair) dan S3 dari FE Unair itu menjelaskan, ke-80 responden itu diwawancarai dalam kaitan dengan konsep Organizational Citizenship Behavior (OCB) dengan tujuh konstruksi.
"Tujuh konstruksi konsep OCB atau perilaku berorganisasi dalam berpolitik adalah civic virtue, sportmanship, altruism, conscientiousness, curtesy, cheerleading, dan pecaemaking’," kata alumni S2 dari Martin School of Public Administration, University of Kentucky, Amerika Serikat itu.
Hasilnya, politikus perempuan terbukti lebih dekat kepada konstruksi "altruism" dan conscientiousness yang berarti politikus perempuan lebih suka membantu dan membujuk (altruism) serta patuh kepada aturan dan punya peran lebih (conscientiousness).
"Ada juga politikus perempuan yang lebih dekat kepada konstruksi cheerleading atau mendorong orang lain, tapi mayoritas politikus perempuan itu mendekati konstruksi altuirsm dan conscientousness," ujar Brahmasari.
Menurut ibu tiga anak yang kelahiran Denpasar pada 28 Mei 1959 itu, hasil yang didapat itu menunjukkan politikus perempuan menyumbang 33,2 persen terhadap kinerja partai politik atau DPRD yang menjadi tempat tugasnya.
"Tapi, politikus perempuan itu bukan tidak punya perilaku negatif. Mereka tidak dapat dilepaskan dari sifat alamiah yakni urusan domestik di rumah tangga bisa masuk dalam urusan organisasi, misalnya, anaknya sakit maka parpol atau DPRD akan diabaikan," ujarnya menambahkan.
Selain itu, perempuan juga bisa kecewa terhadap organisasi, karena itu 11 dari 80 politikus perempuan yang menjadi responden mengaku pernah berpindah parpol dengan berbagai alasan.
"Motivasi perempuan menjadi politikus juga beragam mulai dari idealisme karena memang berminat, belajar politik, membangun jaringan atau ingin bekerja, dan sebagainya," tuturnya.
Ditanya minimnya perempuan yang masuk ranah politik praktis karena kuota perempuan di DPR/DPRD tak terpenuhi, ia menilai hal itu akibat perempuan tidak suka masuk ranah abu-abu (politik kotor), pertimbangan domestik, dan gender.
"Tapi, banyak lho perempuan yang mampu menjadi politikus yang berintegritas dan kompeten. Buktinya, Yulyani (DPRD Surabaya/PKS), Tri Risma (Pemkot Surabaya), dan Emi Susanti (aktivis perempuan)," katanya.
Karena itu, menurut dia, ketiga perempuan itu diundang untuk hadir dalam pengukuhan dirinya, kemudian siang harinya diminta untuk berbicara dalam seminar tentang "Menakar Peluang Perempuan dalam Pemilihan Wali Kota Surabaya" di Untag Surabaya.
http://regional.kompas.com/read/2010/01/29/15284617/Ssstt....Politisi.Perempuan.Lebih.Patuh.Aturan


0 komentar:
Posting Komentar